Sabtu, 16 Mei 2015

Tips : Buat kamu, Mahasiswa Kampus Otista yang Ingin Berjaya

Bicara tentang mahasiswa STIS, nggak akan jauh-jauh dari mahasiswa yang terklasifikasikan dalam populasi yang homogen. Intinya, hidup mahasiswa setis ya begitu-begitu saja. Nggak percaya? Itu pilihanmu!

Eits, sabar! kamu juga berhak kok menyandang gelar mahasiswa outlier alias jadi mahasiswa yang nggak "hidup begitu-begitu saja". Caranya? Berikut ini alternatif buat kamu yang pengin lebih sensasional. Biar masa kuliahmu makin berwarna.


Itu modelnya bukan aku, lho. Itu Indra. Temen sehimada, temen sekelas 2C, yang berdarah kental Purwokerto.


TINGKAT SATU
Tahun pertama disini memang jadi tahun yang super-duper-amazing. Ada momok yang cukup bikin merinding tujuh keliling, D.O.
Duh, cuma dua huruf tapi cukup sakral.
Tahun pertama, banyak mahasiswa yang kerjaannya cuma kuliah, pulang, ke PGC/Kalibata/Mekdi, kuliah lagi, pulang lagi, dst. Kalau hidup kalian begitu, maka sungguh mengenaskan! Jangan cuma bangga setelah posting foto pakai PDA pertama kali, plis. 
Harus ada improvisasi, coy!
Di tingkat satu ini memang kita harus dapet nilai akademis maksimal, tapi kalau kamu bisa mencoba suatu hal yang lain dan kamu ingin belajar manajemen hidupmu, Kenapa tidak? Ayo! LAKUKAN HAL YANG BERBEDA!!
Contohnya adalah gabung di organisasi dalam kampus.
Itu alternatif yang gampang buat direalisasikan. Kalo kamu masih hanya gabung di organisasi kampus, setidaknya kamu masih ada banyak waktu buat stay di otista, tanah air almamater tercinta. It means that kamu nggak bakal dapat alasan "Aku nggak belajar soalnya aku harus ngehabisin waktu di luar kampus, dst.". kamu masih punya kesempatan yang lebar buat selalu ketemu teman-teman kampusmu, buat KSM, ngerjain tugas bareng, dan serentetan-rutinitas-mahasiswa-setis lainnya.
Catet itu.


TINGKAT DUA
Ini nih, saatnya untukmu beraksi. Lebarkan sayapmu seluas-luasnya.
Di tingkat dua ini, kamu bakal sudah paham sistem perkuliahan STIS, jadi perluas zona nyamanmu biar kamu bisa jadi expert di bidangmu.
Ada beberapa alternatif di tahun kedua ini.
SATU. Kamu stay focused pada organisasimu di kampus dan jadi decision maker di organisasi itu, atau kamu jadi someone yang berpengaruh dan spesial di organisasi itu.
DUA. kamu gabung dengan berbagai komunitas di luar kampus. Selagi di Jakarta, kamu bisa lho, akses banyak hal dengan mudah.
Misalnya nih, 
Pertama.... buat anak-anak sosial-banget yang suka "menggali makna bersyukur dan memahami hidup", kamu bisa gabung dengan "Sahabat Anak", komunitas pecinta anak jalanan; dimana kamu nggak sekadar belajar buat ngajarin anak jalanan soal matematika, bahasa inggris, dsb.. tapi juga belajar dan mengajar tentang hidup, hidupmu!
Ada lagi nih yang namanya Dreamdelion. Di Dreamdelion juga ada anak STIS yang sudah jadi anggota tetap, lho. kamu bakal belajar soal sosio-preneurship di sana.
Eh iya, baru-baru ini juga kudengar STIS mulai merambah di dunia begituan! Ada STIS mengajar ya kabarnya? Wah... prok prok prok..

Kedua..... Ada lagi jenis mahasiswa yang lain..
Mahasiswa biasanya identik dengan "Agen Perubahan", ceilaaahh..
Nah, ada lho jalan menuju ke sana. Kamu bisa ikutan sejenis annual conference alias forum-forum pemuda kekinian gitu.. sebut saja Indonesian Youth Forum, Indonesian Youth Conference, Indonesian Future Leader, Forum Indonesia Muda, dan masih buanyak yang lainnya.
FYI nih, kalau kamu ikutan disana, kadangkala kamu perlu "nakal" sedikit. Hehe. Kamu perlu gunakan jatah bolos kuliahmu, karena biasanya forum-forum seperti itu nggak hanya dilaksanakan di Jakarta, tapi bisa jadi ke luar pulau Jawa. Sekalian travelling gitu, mengenal indonesia lebih dalam dan lebih luas. Hahay.
Sebenarnya masih ada, forum-forum internasional yang bisa kamu ikutin, tapi sepertinya ini agak ekstrim alias agak ngeri-ngeri gokil gitu. Soalnya peluang dapet izin dari kampus (dispensasi presensi) sangat kecil kalau kegiatan yang kamu ikuti nggak dapet persetujuan pimpinan kampus terlebih dahulu. *teringat masa lalu* *gagal move on*. Ckck. Jadi, kalau boleh kasih saran sih ya, yang realistis tapi worthed gitu lah..
Ingat! Langkah yang besar dimulai dari langkah-langkah kecil yang konsisten.

Ketiga.... Masih ada alternatif buat spesies mahasiswa yang lain. Mereka adalah mahasiswa yang sangat mulia, pengin meringankan beban orang tua!
Mahasiswa jenis ini lebih senang menghabiskan waktu mereka dari mulai ngajar les sampai buka lapak lemari pakaian, dari mulai nyanyi di cafe sampai nge-dj, ikutan ngurus wedding organizer sampai bantuin skripsi orang.
Nah, kalau bisa sih pilih-pilih juga kalau mau ambil kesempatan. Ambil yang bisa bikin kamu berkembang lebih baik, bisa dapet banyak link atau network, dan berbagai pertimbangan lain. Jadi jangan cuma ngejar uang semata. Oke?


TINGKAT TIGA
Ini dia, saatnya kamu back to school. Alias, harus banget kembali ke kampus buat ngerasain sensasi yang super-duper-obvious banget, yaitu PE-KA-EL.
Ada beberapa konsep dan definisi PKL. Menurut beberapa orang, PKL merupakan kegiatan selama 2 pekan yang berimbas pada hitamnya kulit, dan menghasilkan output berupa foto-foto selfie groofie dengan responden ketika di lapangan.
Eitzzzz.... Itu definisi beberapa orang.
Sekarang, coba perluas lingkaranmu! Coba perlebar definisimu! Maksudku, PKL tuh nggak hanya sekadar yang tadi dijelaskan di atas!
Jadi, rugi banget kalau kamu cuma jadi anggota subseksi yang hanya mengikuti alur timeline. Rugi.
Kamu kudu breaking the limit di ajang PKL ini! 
Cobalah jadi BPH.. kalau nggak terwujud karena IP atau faktor lain, coba daftar jadi koordinator seksi.. tapi kalau masih nggak terwujud juga, jadi anggota seksi yang aktif, karena di PKL ini ada banyak kesempatan buat anggota seksi! Contohnya kamu bisa jadi BPH Lapangan yaitu korwil, seklap, bendahara, server. Atau kamu bisa aktif di Event Seminar Publikasi PKL. Atau kamu bisa jadi presenter PKL. Dan masih banyak jalan yang bisa kau tempuh, kawan! masih banyak pintu lain yang bisa untukmu lebih menggelegar dan menggeliat di PKL ini, nggak hanya sekadar go with the flow.
PKL itu ajang buat kita mengasah otak kanan dan otak kiri, menajamkan intuisi, dan mengolah emosi. Kalau boleh kasih testimoni sih, PKL ini salah satu kepanitiaan sekali seumur hidup yang beneran kasih kesempatan buat belajar sangat amat banyak hal. *Rencananya bakal kubikin tulisan khusus dah buat mengulas PKL ini*.
Intinya, tahun ketiga ini, fokuskan dirimu buat PKL. *saranku* hehe.

Ketika agenda PKL mulai lengang, it's time for you buat menggondol medali! Saatnya buat kamu cantumkan namamu di sipadu sebagai peraih prestasi atas nama STIS! Banyak perlombaan yang bisa kamu ikuti, kayak NSC, DAC, OPTK, dan banyak perlombaan lain yang bisa dibiayai kampus.
Selain lomba atas nama kampus, ada kok banyak sekali kompetisi di luar sana yang bisa bawa nama pribadi aja. Apalagi lomba yang memforsir otak kanan, BUANYAK BANGET. Tinggal seberapa keras effortmu untuk cari info aja. Perbanyak network aja sih kuncinya.
Kenapa lomba di tingkat tiga? Ya boleh aja sih kamu mulai dari tingkat satu. Tapi di tingkat tiga kan biasanya udah mateng tuh persiapan buat ikut lombanya. Hehe. *ngeles*


*****

Oke, itu dia beberapa tips laknat dari manusia hina ini.
Baru sampe tingkat tiga nih, soalnya baru segitu modal pengalamanku.
Intinya, hal-hal di atas bukan suatu hal yang mustahil kok, sudah kubuktikan sendiri dan beberapa orang sudah membuktikannya, dan aku bisa banyak belajar dari hal-hal itu. Tapi apa yang kudapat masih cetek dan sangat kurang, coy! Makanya kuingin kamu bisa lebih dari yang kutulis, biar bisa buktiin kalau anak STIS juga bisa banget jadi mahasiswa yang kece-gaul-cetar-membahana-badai dan nggak kalah kompeten dari mahasiswa universitas atau perguruan tinggi lain.
Memang agak kontradiktif ketika kamu harus berhadapan dengan "dunia perkuliahan" yang selalu menteror kamu biar dapet IP di atas 3,5. Karena IP sangat penting buat penempatan setelah kita lulus.
Tapi, kalau IP tinggi tanpa punya softskill yang maksimal, rasanya kurang greget aja. kurang nendang. Haha.

Sekali lagi, jangan sampai kamu mati suri di kampus ini, jangan jadi mahasiswa yang cuma mengikuti arus yang terjadi. 
Tunjukkan aksi, 
Mulai berkontribusi, 
Sumbangkan eksistensi diri untuk memberi arti.
Tendang zona nyamanmu, dan mulailah melangkah, SEKARANG JUGA.

1 komentar: